Articles by "sejarah"

Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Penulis : Muhamad Yudha Al - Fikri

Kemajuan selalu menjadi hantu buat sebuah masyarakat yang konservatif. Jadi terlihat bahwasanya kalau gedung pencakar langit itu semakin banyak maka dekadansi moral semakin menipis. Padahal itu sebuah teori yang tidak selamanya benar. Sebab kemajuan akan selaras dengan cita - cita masyarakat, Jika masyarakat mau menjadikan agama sebagai pondasi terkuat dalam sebuah kemajuan.

Islam tidak melarang suatu kemajuan, Islam tidak membenci peradaban. Barat bangga dengan kemajuan selama ini dan beralibi bahwasanya dengan cara meninggalkan agama maka peradaban akan lahir. Padahal itu asumsi yang salah dalam teori Barat selama ini. Kenapa mereka berpendapat begitu?
Sebab ketika masa the dark age Barat tidak merasakan manisnya beragama.

Agama adalah satu penyakit yang kronis yang mesti dihilangkan dari sisi kehidupan di Barat. Para pastur/ pendeta Kristen dijadikan Tuhan oleh mereka dan sangat dihormati oleh semua masyarakat Eropa. Jadi  ilmu pengetahuan yang diperoleh oleh para cendikiawan Barat yang belajar di negeri Muslim mereka memberanikan diri untuk terus belajar di negeri Muslim khususnya Andalusia dengan syarat kematian terus menantinya setelah pulang dari Eropa, Pastur takut kalau ada di masyarakat Eropa yang belajar di negeri Muslim maka akan nampak kesalahan yang selama ini dilakukan oleh para Pastur dalam membodohi masyarakat Eropa.

Pembunuhan adalah satu - satunya cara untuk menghilangkan ilmu dari bumi Eropa. Akhirnya berabad - abad lamanya Eropa dalam keadaan tersesat. Tidak ada cahaya ilmu yang menyinari mereka, sebab siapa yang belajar di negeri Muslim maka akan dibunuh. Jadi semua takut untuk melakukan perjalanan ke luar Eropa dalam menuntut ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan seperti mata air kehidupan yang terus dicari oleh para ilmuan Eropa dan penyiksaan adalah jalan yang mesti ditempuh oleh mereka. Ketika masa " عصر التنوير" masa (pencerahan)  disanalah ketahuan bahwasanya para tokoh agama dan petinggi gereja selalu menipu masyarakat Eropa.

Bahkan orang yang tidak mandi itu sesuatu yang hebat dan orang yang belajar itu akan dijauhi masyarakat, kalau kita perhatikan itu di luar akal manusia normal.
Mana mungkin orang yang tidak mandi dikatakan hebat dan orang yang belajar malah dijauhi masyarakat?
Bukankah Barat memang merasakan kebodohan yang luar biasa?

Islam menjunjung tinggi peradaban, Islam menghormati ilmu pengetahuan. Islam tidak akan pernah bersebrangan dengan kemajuan.

Waallahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Identik kepemimpinan selama ini yang ada di negara Indonesia dan politik dunia umumnya adalah intruksi di belakang meja, maksudnya hanya menunggu laporan dari anak buah saja dan hanya menggunakan jari telunjuk  dalam segala urusannya.

Kalau seorang pemimpin, baik Gubernur atau pun Presiden masih meng-kelas-kan diri maka sangat sulit untuk memajukan daerah yang dipimpinnya. Presiden Indonesia beberapa minggu terakhir turun ke nelayan, moga ini awal bagus yang bisa dicontoh oleh semua Gubernur atau Bupati di seluruh Indonesia. 

Sebab tanpa turun ke masyarakat bagaimana bisa mencarikan solusi permasalahan yang ada. Negara Indonesia sudah terlalu lama merasakan pedihnya birokrasi sudah saatnya masuk dalam dunia down to earth.

Jadi pemimpin itu mesti ke bawah, perbanyak melihat dan mengkaji lebih dalam lagi sejarah Nabi Muhamad s.a.w. dalam memimpin. Seorang yang sangat disayangi oleh sahabatnya dan sangat disegani oleh musuh politiknya. 

Rasul lebih banyak ke bawah dibanding hanya intruksi saja, rakyat pun mengadu ke Rasul dari urusan dapur sampai urusan perang, semua ditanyakan ke Rasul. Jadi Rasul bisa menjadi tempat sandaran rakyatnya dalam memberikan solusi.

Rasul mencontohkan terlebih dahulu dengan sikap yang baik, memberikan tauladan yang baik untuk membuat satu komunitas yang baik. 
Jika pemimpin sudah disayang rakyatnya maka peradaban pun akan lahir dengan sendirinya.

Nabi adalah seorang visioner, seorang imajinatif dan seorang yang luar biasa. Satu dari sifat Nabi saja dari beberapa sifat yang dimilikinya contoh Jujur, Kalau ada pemimpin punya sifat itu saja maka rakyat akan suka, apalagi kita mengikut semua sifat Nabi yang ada, jangankan penghuni bumi, penghuni langit pun akan sangat menghormatinya. 

Yang selalu menjadi masalah adalah pemimpin di balik meja, dia hanya tahu info tentang sesuatu dari anak buahnya tanpa mengecheck apakah info itu betul atau tidak? Yang pastinya anak buah mempunyai slogan, 
" yang penting bapak senang, ".
Jadi kabar yang disampaikan ke pemimpin/ Bupati/ Gubernur/ Menteri/ Presiden itu kabar yang baik - baik saja padahal ketika dicheck dilapangan, apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Jadi kalau pemimpin ingin membangun peradaban, lihatlah sejarah Rasulullah.
Kalau mau menjadi pemimpin yang disayangi rakyatnya, kajilah peradaban Nabiyullah

Waallahu a'lam



Penulis : Muhamad Yudha Al - Fikri

Sudah berkali - kali penulis ketika datang dalam solat Jumat dan mendengarkan ceramah pasti ada saja Khatib mengeluarkan ayat quran yang salah dalam mengucapakan.
Tapi masih dipanggil : Habib, Ustaz, Haji. Yang disayangkan ketika mengeluarkan hadist malah hadist maudhu'.
Bukan sekali didengar di masjid - masjid di Indonesia tapi hampir tiap solat Jumat kalau kita perhatikan seksama.

Di Indonesia kekurangan orang yang faham akan agama Islam. Membaca Al Quran saja masih sedikit yang fasih. Orang tua mesti menjadi Imam dan anak muda harus jadi Makmum yang semua ini tidak berlaku di negeri Arab tapi budaya ini sudah mengakar di Indonesia. 

Pemuda kadang dianggap sebelah mata oleh sebagian masyarakat Indonesia. Orang tua baca quran tidak sesuai tajwid, bahkan salah masih merasa dirinya sesuai untuk jadi Imam solat, sungguh disayangkan.
Ironisnya, masyarakat tidak sadar bahwasanya Khatib salah baca atau pun ada ayat yang tertinggal malah terus menerus mengagungi Habib atau Ustaz yang di elu - elukan itu.

Kita tahu banyak filem di Indonesia yang di sana belagak jadi Ustaz padahal hanya akting saja, tapi ketika keluar ke masyarakat dipanggil Ustaz, jadi agak  bingung juga sekarang. Mana yang pelawak dan mana Ustaz betul. 

Ada juga orang yang sudah berangkat haji setelah balik dari Mekah ingin disebut gelarnya, Pak Haji kalau tidak disebut tidak mau menjawab panggilannya.
Haji adalah perintah Allah bagi yang mampu, jangan sebab tidak dipanggil haji malah tidak menjawab panggilan orang. Kalau begitu hajinya tidak mabrur sebab masih ingin orang lain memujinya. Allah melarang hambanya untuk berbangga diri dan sombong.

Walaupun sudah haji tapi tidak perlu ingin selalu disebut Pak Haji atau Bu Hajah. Allah itu melihat ketakwaan seseorang, bukan dilihat dari gelar.
Iblis pun turun dari langit sebab kesombongannya dan Iblis juga masuk neraka karena sombongnya juga, dengan meremehkan perintah Allah.

Jadi kita berbenah bersama, intropeksi bersama kalau ada dimasyarakat kita ada yang masih rakus gelar agama tolong diingatkan kalau kita masih takut untuk mengingatkannya sebab orangnya garang, tolong doakan mereka supaya mendapatkan hidayah Allah.

Pergeseran makna terus menggerus nilai - nilai di masyarakat, dulu dikatakan Ustaz itu yang fasih baca Al- Quran dan banyak hapalan hadist, kalau sekarang cukup dengan janggut yang terurai dan pakai peci sudah dikatakan Ustaz, padahal ilmu agama sedikit pun tidak dimilikinya.


Waallahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al- Fikri

Sifat individualistik adalah bagian dari gaya hidup orang Kapitalis, orang hidup dengan nafasnya, tanpa memikirkan nafas orang lain.
Padahal kita makhluk sosial yang perlu bantuan orang lain sebab itu perintah Allah dalam ayat ayatnya.

Kapitalis yang kaya makin kaya dan miskin makin sengsara.
Sistem yang terlalu menyembah Barat membuat kita rusak, bukannya lebih baik malah negara makin hancur dengan sistem yang katanya sebagai solusi untuk kemajuan ekonomi suatu bangsa sebagaimana yang selalu didengungkan oleh Barat atas sistem yang selama ini mereka buat.

Politik dengan sistem Demokrasi dan Kapitalis sebagai sistem ekonomi dunia. Tinggi bangunan pencakar langit di Jakarta menunjukan jiwa individualistik yang tinggi. Kenapa bisa begitu?
Sebab ditingginya bangunan pencakar langit yang membumbung tinggi di bawah bangunan itu banyak pengemis yang kelaparan.
Sistem Kapitalis sebagai makanan keseharian rakyat Indonesia khususnya masyarakat Jakarta.

Islam mengajarkan untuk selalu memberikan zakat dan sedekah kepada fakir miskin untuk membantu mereka, supaya bisa makan dan saling merasakan apa yang orang lain rasa.
Tapi, sistem yang diagungkan oleh Barat tidak bisa dijadikan solusi untuk kemajuan negara malah membuat negara semakin hancur dan kesenjangan sosial semakin nampak.

Islam memberikan solusi terbaik sebagaimana yang tertuang dalam ayat -ayat Allah untuk terus zakat dan infak, tapi rakyat Indonesia masih malas untuk membayar zakat, padahal zakat bisa membantu orang yang sangat membutuhkan.

Zakat saja malas untuk dikeluarkan, padahal kalau kita ingin membersihkan harta kita maka dengan zakat dan sedekah.
Tapi kaum Kapitalis mengatakan dan mempunyai slogan, " siapa suruh jadi orang miskin..!"
Lihatlah dengan kaca mata iman, jangan kita memandang orang dengan sebelah mata, maka sifat sombonglah yang akan selalu melekat di dalam dada kita.

Di dunia ini ada orang yang beruntung dan ada yang rugi, jadi kalau kita dipercayakan Allah untuk mendapatkan rezeki yang banyak, maka di situ hak Allah mesti kita tunaikan.
Hak Allah adalah membantu orang lain dalam keadaan susah. Allah akan monolong hambanya dimana hamba itu menolong saudaranya.
Individualistik adalah bagian dari sifat Syaitan. Hanya dengan membantu orang maka akan lahirnya ketenangan hati.

Waallahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Beliau adalah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung `Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Hapal Al-Quran dalam usianya 10 tahun Belajar di Makkah, Madinah dan Basrah Setelah mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab diajak oleh ayahnya untuk bersama-sama pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima mengerjakan haji di Baitullah. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, ayahnya terus kembali ke kampung halamannya. Adapun Muhammad, ia tidak pulang tetapi masih terus tinggal di Mekah selama beberapa waktu, kemudian berpindah pula ke Madinah untuk melanjutkan belajar di sana. 

Di Madinah, beliau berguru pada dua orang ulama besar dan termasyhur di waktu itu. Kedua-dua ulama tersebut sangat berjasa dalam membentuk pemikirannya, yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syeikh Muhammad Hayah al-Sindi. Selama berada di Madinah, beliau sangat prihatin menyaksikan ramai umat Islam setempat maupun penziarah dari luar kota Madinah yang telah melakukan perbuatan-perbuatan kesyirikan dan tidak sepatutnya dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya Muslim. Beliau melihat ramai umat yang berziarah ke maqam Nabi mau pun ke maqam-maqam lainnya untuk memohon syafaat, bahkan meminta sesuatu pada kuburan mau pun penghuninya, yang mana hal ini sama sekali tidak dibenarkan oleh agama Islam. Apa yang disaksikannya itu menurut Syeikh Muhammad adalah sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. 

Kesemua inilah yang semakin mendorong Syeikh Muhammad untuk lebih mendalami pengkajiannya tentang ilmu ketauhidan yang murni, yakni Aqidah Salafiyah. Bersamaan dengan itu beliau berjanji pada dirinya sendiri bahwa pada suatu hari nanti beliau akan mengadakan perbaikan (Islah) dan pembaharuan (Tajdid) dalam masalah yang berkaitan dengan ketauhidan, yaitu mengembalikan aqidah umat kepada sebersih-bersihnya tauhid yang jauh dari khurafat, tahyul dan bid’ah. Untuk itu beliau mesti mendalami benar-benar tentang aqidah ini melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang silam. Di antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau adalah mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.

Demikianlah meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan duplikat(salinan) Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan. Setelah beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama, sehingga banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutama di bidang hadith dan musthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu qawa’id) dan tidak ketinggalan pula sasteranya. Mulai Berdakwah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab memulai dakwahnya di Basrah, tempat di mana beliau bermukim untuk menuntut ilmu ketika itu. Akan tetapi dakwahnya di sana kurang bersinar, karena menemui banyak rintangan dan halangan dari kalangan para ulama setempat. 

Di antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama Syeikh Muhammad al-Majmu’i. Tetapi Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman dari sebagian ulama yang sesat, yaitu ulama jahat yang memusuhi dakwahnya di sana; keduanya diancam akan dibunuh. Akhirnya beliau meninggalkan Basrah dan mengembara ke beberapa negeri Islam untuk menyebarkan ilmu dan pengalamannya. Awal Pergerakan Tauhid Muhammad bin `Abdul Wahab memulakan pergerakan di kampungnya sendiri yaitu Uyainah. Di waktu itu Uyainah diperintah oleh seorang amir (penguasa) bernama Amir Uthman bin Mu’ammar. 

Amir Uthman menyambut baik ide dan gagasan Syeikh Muhammad itu dengan sangat gembira dan beliau berjanji akan menolong perjuangan tersebut sehingga mencapai kejayaan. Selama Syeikh melancarkan dakwahnya di Uyainah, masyarakat negeri itu semua lelaki dan wanita merasakan kembali kedamaian luar biasa, yang selama ini belum pernah mereka rasakan. Dakwah Syeikh bergema di negeri mereka. Ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan Islam telah tumbuh kembali berkat dakwahnya di seluruh pelusuk Uyainah dan sekitarnya. Orang-orang dari jauh pun mula mengalir berhijrah ke Uyainah, karena mereka menginginkan keamanan dan ketenteraman jiwa di negeri ini. 

Pada suatu hari, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab meminta izin pada Amir Uthman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibina di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Syeikh Muhammad mengemukakan alasannya kepada Amir, bahwa menurut hadith Rasulullah SAW, membina sebuah bangunan di atas kubur adalah dilarang, karena yang demikian itu akan menjurus kepada kemusyrikan. Amir menjawab: 

"Silakan... tidak ada seorang pun yang boleh menghalang rencana yang mulia ini." Tetapi Syeikh mengajukan pendapat bahwa beliau khuatir masalah itu kelak akan dihalang-halangi oleh ahli jahiliyah(kaum Badwi) yang tinggal berdekatan maqam tersebut. Lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk tujuan tersebut bersama-sama Syeikh Muhammad merobohkan maqam yang dikeramatkan itu. Sebenarnya apa yang mereka sebut sebagai maqam Zaid bin al-Khattab r.a yang gugur sebagai syuhada’ Yamamah ketika menumpaskan gerakan Nabi Palsu (Musailamah al-Kazzab) di negeri Yamamah waktu dulu, hanyalah berdasarkan prasangka belaka. 

Karena di sana terdapat puluhan syuhada’ (pahlawan) Yamamah yang dikebumikan tanpa jelas lagi pengenalan mereka. Bisa saja yang mereka anggap maqam Zaid bin al-Khattab itu adalah maqam orang lain. Tetapi oleh karena masyarakat setempat di situ telah terlanjur beranggapan bahwa itulah maqam beliau, mereka pun mengkeramatkannya dan membina sebuah masjid di tempat itu, yang kemudian dihancurkan pula oleh Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab atas bantuan Amir Uyainah, Uthman bin Mu’ammar. Syeikh Muhammad tidak berhenti sampai disitu, akan tetapi semua maqam-maqam yang dipandang berbahaya bagi aqidah ketauhidan, yang dibina seperti masjid yang pada ketika itu berselerak di seluruh wilayah Uyainah turut diratakan semuanya. 

Hal ini adalah untuk mencegah agar jangan sampai dijadikan objek peribadatan oleh masyarakat Islam setempat yang sudah mulai nyata kejahiliahan dalam diri mereka. Dan berkat rahmat Allah, maka pusat-pusat kemusyrikan di negeri Uyainah dewasa itu telah terkikis habis sama sekali. Pada suatu hari datanglah seorang wanita yang mengaku dirinya berzina ke hadapan Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab, dia meminta agar dirinya dijatui hukuman yang sesuai dengan hukum Allah dan RasulNya. Meskipun Syeikh mengharapkan agar wanita itu menarik balik pengakuannya itu, supaya ia tidak terkena hukum rajam, namun wanita tersebut tetap bertahan dengan pengakuannya tadi, ia ingin menjalani hukum rajam. Maka, terpaksalah Syeikh menjatuhkan kepadanya hukuman rajam atas dasar pengakuan wanita tersebut. 

Berita tentang kejayaan Syeikh dalam memurnikan masyarakat Uyainah dan penerapan hukum rajam kepada orang yang berzina, sudah tersebar luas di kalangan masyarakat Uyainah mau pun di luar Uyainah. Masyarakat Uyainah dan sekelilingnya menilai gerakan Syeikh Ibnu `Abdul Wahab ini sebagai suatu perkara yang mendatangkan kebaikan. Namun, beberapa kalangan tertentu menilai pergerakan Syeikh Muhammad itu sebagai suatu perkara yang negatif dan membahayakan kedudukan mereka. 

Memang, hal ini sama keadaannya dimanapun di saat tersebut, bahkan pergerakan pembaharuan tersebut dipandang rawan bagi penentangnya. Hal tersebut seperti halnya untuk mengislamkan masyarakat Islam yang sudah kembali ke jahiliyah ini, yaitu, dengan cara mengembalikan mereka kepada Aqidah Salafiyah seperti di zaman Nabi, para Sahabat dan para Tabi’in dahulu. antara yang menentangnya dakwah tersebut adalah Amir (pihak berkuasa) wilayah al-Ihsa’ (suku Badwi) dengan para pengikut-pengikutnya dari Bani Khalid Sulaiman bin Ari’ar al-Khalidi. Mereka adalah suku Badui yang terkenal berhati keras, suka merampas, merampok dan membunuh. 

Pihak berkuasa al-Ihsa’ khuatir kalau pergerakan Syeikh Muhammad tidak dipatahkan secepat mungkin, sudah pasti wilayah kekuasaannya nanti akan direbut oleh pergerakan tersebut. Padahal Amir ini sangat takut dijatuhkan hukum Islam seperti yang telah diperlakukan di negeri Uyainah. Dan tentunya yang lebih ditakutinya lagi ialah kehilangan kedudukannya sebagai Amir (ketua) suku Badui. Maka Amir Badui ini menulis sepucuk surat kepada Amir Uyainah yang isinya mengancam pihak berkuasa Uyainah. Adapun isi ancaman tersebut ialah: "Apabila Amir Uthman tetap membiarkan dan mengizinkan Syeikh Muhammad terus berdakwah dan bertempat tinggal di wilayahnya, serta tidak mau membunuh Syeikh Muhammad, maka semua pajak dan upeti wilayah Badui yang selama ini dibayar kepada Amir Uthman akan diputuskan (ketika itu wilayah Badwi tunduk dibawah kekuasaan pemerintahan Uyainah).

" Jadi, Amir Uthman dipaksa untuk memilih dua pilihan, membunuh Syeikh atau suku Badui itu menghentikan pembayaran upeti. Didesak oleh tuntutan tersebut, terpaksalah Amir Uyainah memanggil Syeikh Muhammad untuk diajak berunding bagaimanakah mencari jalan keluar dari ancaman tersebut. Soalnya, dari pihak Amir Uthman tidak pernah sedikit pun terfikir untuk mengusir Syeikh Muhammad dari Uyainah, apalagi untuk membunuhnya. Tetapi, sebaliknya dari pihaknya juga tidak terdaya menangkis serangan pihak suku Badui itu. Maka, Amir Uthman meminta kepada Syeikh Muhammad supaya dalam hal ini demi keselamatan bersama dan untuk menghindari dari terjadinya pertumpahan darah, sebaiknya Syeikh bersedia mengalah untuk meninggalkan negeri Uyainah. Syeikh Muhammad menjawab seperti berikut: "Wahai Amir! Sebenarnya apa yang aku sampaikan dari dakwahku, tidak lain adalah DINULLAH (agama Allah), dalam rangka melaksanakan kandungan LA ILAHA ILLALLAH - Tiada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah. Maka barangsiapa berpegang teguh pada agama dan membantu pengembangannya dengan ikhlas dan yakin, pasti Allah akan mengulurkan bantuan dan pertolonganNya kepada orang itu dan Allah akan membantunya untuk dapat menguasai negeri-negeri musuhnya. 

Saya berharap kepada anda Amir supaya bersabar dan tetap berpegang terhadap pegangan kita bersama terlebih dahulu, untuk sama-sama berjuang demi tegaknya kembali Dinullah di negeri ini. Mohon sekali lagi Amir menerima ajakan ini. Mudah-mudahan Allah akan memberi pertolongan kepada anda dan menjaga anda dari ancaman Badui itu, begitu juga dengan musuh-musuh anda yang lainnya. Dan Allah akan memberi kekuatan kepada anda untuk melawan mereka agar anda dapat mengambil alih daerah Badui untuk sepenuhnya menjadi daerah Uyainah di bawah kekuasaan anda. 

Setelah bertukar fikiran di antara Syeikh dan Amir Uthman, tampaknya pihak Amir tetap pada pendiriannya, yaitu mengharapkan agar Syeikh meninggalkan Uyainah secepat mungkin. Dalam bukunya yang berjudul Al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab, Wada’ Watahu Wasiratuhu, Syeikh Muhammad bin `Abdul `Aziz bin `Abdullah bin Baz, beliau berkata: "Demi menghindari pertumpahan darah, dan karena tidak ada lagi pilihan lain, di samping beberapa pertimbangan lainnya maka terpaksalah Syeikh meninggalkan negeri Uyainah menuju negeri Dar’iyah dengan menempuh perjalanan secara berjalan kaki seorang diri tanpa ditemani oleh seorangpun. Beliau meninggalkan negeri Uyainah pada waktu siang hari dan sampai ke negeri Dar’iyah pada waktu malam hari. Tapi ada juga tulisan lainnya yang mengatakan bahwa: 

Pada mulanya Syeikh Muhammad mendapat dukungan penuh dari pemerintah negeri Uyainah Amir Uthman bin Mu’ammar, namun setelah api pergerakan dinyalakan, pemerintah setempat mengundurkan diri dari percaturan pergerakan karena alasan politik (besar kemungkinan takut dipecat dari kedudukannya sebagai Amir Uyainah oleh pihak atasannya). Dengan demikian, tinggallah Syeikh Muhammad dengan beberapa orang sahabatnya yang setia untuk meneruskan dakwahnya. Setelah beberapa hari kemudian, Syeikh Muhammad diusir keluar dari negeri itu oleh pemerintahnya. 

Bersamaan dengan itu, pihak berkuasa telah merencanakan pembunuhan atas diri Syeikh di dalam perjalanannya, namun Allah mempunyai rencana sendiri untuk menyelamatkan Syeikh dari usaha pembunuhan dan akhirnya sampai negeri Dar'iyah. Syeikh Muhammad di Dar’iyah Sesampainya Syeikh Muhammad di sebuah kampung wilayah Dar’iyah, yang tidak berapa jauh dari tempat kediaman Amir Muhammad bin Saud (pemerintah negeri Dar’iyah), Syeikh menemui seorang penduduk di kampung itu, orang tersebut bernama Muhammad bin Sulaim al-`Arini. Bin Sulaim ini adalah seorang yang dikenal soleh oleh masyarakat setempat. Syeikh meminta izin untuk tinggal bermalam di rumahnya sebelum ia meneruskan perjalanannya ke tempat lain. 

Pada mulanya ia ragu-ragu menerima Syeikh di rumahnya, karena suasana Dar’iyah dan sekelilingnya pada waktu itu tidak tenteram, menyebabkan setiap tamu yang datang hendaklah melaporkan diri kepada pihak berkuasa setempat. Namun, setelah Syeikh memperkenalkan dirinya serta menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke negeri Dar’iyah, yaitu hendak menyebarkan dakwah Islamiyah dan membenteras kemusyrikan, barulah Muhammad bin Sulaim ingin menerimanya sebagai tamu di rumahnya.

Sesuai dengan peraturan yang ada di Dar’iyah di kala itu, yang mana setiap tamu hendaklah melaporkan diri kepada pihak berkuasa setempat, maka Muhammad bin Sulaim menemui Amir Muhammad untuk melaporkan tamunya yang baru tiba dari Uyainah dengan menjelaskan maksud dan tujuannya kepada beliau. ada riwayat yang mengatakan; bahwa seorang soleh datang menemui isteri Amir Ibnu Saud, ia berpesan untuk menyampaikan kepada suaminya, bahwa ada seorang ulama dari Uyainah yang bernama Muhammad bin `Abdul Wahab hendak menetap di negerinya. Beliau hendak menyampaikan dakwah Islamiyah dan mengajak masyarakat kepada sebersih-bersih tauhid. 

Ia meminta agar isteri Amir Ibnu Saud membujuk suaminya supaya menerima ulama tersebut agar dapat menjadi warga negeri Dar’iyah serta mau membantu perjuangannya dalam menegakkan agama Allah. Isteri Ibnu Saud ini sebenarnya adalah seorang wanita yang soleh. Maka, tatkala Ibnu Saud mendapat giliran ke rumah isterinya ini, si isteri menyampaikan semua pesan-pesan itu kepada suaminya. Selanjutnya ia berkata kepada suaminya: "Bergembiralah kakanda dengan keuntungan besar ini, keuntungan di mana Allah telah mengirimkan ke negeri kita seorang ulama, juru dakwah yang mengajak masyarakat kita kepada agama Allah, berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah RasulNya. Inilah suatu keuntungan yang sangat besar. Kanda jangan ragu-ragu untuk menerima dan membantu perjuangan ulama ini, mari sekarang juga kekanda menjemputnya kemari.

" Akhirnya, baginda Ibnu Saud dapat diyakinkan oleh isterinya yang soleh itu. Namun, baginda bimbang sejenak. Ia berfikir apakah Syeikh itu dipanggil datang menghadapnya, ataukah dia sendiri yang harus datang menjemput Syeikh, untuk dibawa ke tempat kediamannya? Baginda pun meminta pandangan dari beberapa penasihatnya, terutama isterinya sendiri, tentang bagaimanakah cara yang lebih baik harus dilakukannya. Isterinya dan para penasihatnya yang lain sepakat bahwa sebaik-baiknya dalam hal ini, baginda sendiri yang harus datang menemui Syeikh Muhammad di rumah Muhammad bin Sulaim. Karena ulama itu didatangi dan bukan ia yang datang, al-`alim Yuraru wala Yazuru.’` 

Maka baginda dengan segala kerendahan hatinya menyetujui nasihat dan isyarat dari isteri mau pun para penasihatnya. Maka pergilah baginda bersama beberapa orang pentingnya ke rumah Muhammad bin Sulaim, di mana Syeikh Muhammad bermalam Amir Ibnu Saud berkata: "Ya Syeikh! Bergembiralah anda di negeri kami, kami menerima dan menyambut kedatangan anda di negeri ini dengan penuh gembira. Dan kami berikrar untuk menjamin keselamatan dan keamanan anda Syeikh di negeri ini dalam menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat Dar’iyah. Demi kejayaan dakwah Islamiyah yang anda Syeikh rencanakan, kami dan seluruh keluarga besar Ibnu Saud akan mempertaruhkan nyawa dan harta untuk bersama-sama anda Syeikh berjuang demi meninggikan agama Allah dan menghidupkan sunnah RasulNya sehingga Allah memenangkan perjuangan ini, Insya Allah!" 

Kemudian anda Syeikh menjawab: "Alhamdulillah, anda juga patut gembira dan Insya Allah negeri ini akan diberkati Allah SWT. Kami ingin mengajak umat ini kepada agama Allah. Siapa yang menolong agama ini, Allah akan menolongnya. Dan siapa yang mendukung agama ini, nescaya Allah akan mendukungnya. Insya Allah kita akan melihat kenyataan ini dalam waktu yang tidak begitu lama.

" Demikianlah seorang Amir (penguasa) tunggal negeri Dar’iyah, yang bukan hanya sekadar membela dakwahnya saja, tetapi juga sekaligus membela darahnya bagaikan saudara kandung sendiri, yang berarti di antara Amir dan Syeikh sudah bersumpah setia sehidup-semati, senasib, dalam menegakkan hukum Allah dan RasulNya di bumi persada tanah Dar’iyah. Ekspansi Wahabi Wahhabisme atau Wahhabiyah diambil dari Syeikh Muhammad ibn `Abd al-Wahhab (1703-1792), pendiri gerakan puritanisme keagamaan di Semenanjung Arabia yang pada akhirnya berujung pada pembentukan negara Islam Arab Saudi. Pada sekitar tahun 1777, ia tinggal di Dariyah, Arabia, dan di sana ibn al-Wahhab menjadi “pemimpin spiritual” keluarga besar Sa`ud. Pada masa itu, Sa`ud adalah sebuah kelompok pembesar atau elite lokal yang sedang berusaha untuk memperluas pengaruh dan wewenang. 

Wahhab lalu menandatangani semacam “perjanjian kerja sama” dengan Muhammad ibn Sa`ud, pemimpin Ibn al-Wahhab dan pengikut-pengikutnya akan mendukung upaya-upaya keluarga ibn al-Sa`ud untuk memperluas pengaruh dan wewenang mereka, dan keluarga al-Sa`ud – sebagai konpensasinya – akan menyebarkan versi Islam Wahhabi. Tentang pertemuan keduanya di Dar`iyyah. Menurut Abu Hakimah, salah satu penulis sejarah ibn al-Wahhab: Muhammad ibn Sa`ud menyambut Muhammad ibn al-Wahhab dan berkata, “ Dar'iyah ini milikmu, dan jangan takut kepada musuh-musuhmu.

Dengan nama Allah, bahkan jika semua [orang] Najd dipanggil untuk menyingkirkan kamu, kami tidak akan pernah setuju untuk mengusirmu.” Muhammad ibn `Abd al-Wahhab menjawab, “Anda adalah pemimpin mereka yang menetap di sini dan Anda adalah seorang yang bijak. Saya ingin Anda menyatakan sumpah Anda kepada saya bahwa Anda akan melaksanakan jihad (perang suci) terhadap orang-orang kafir. 

Sebagai imbalannya, Anda akan menjadi imam, pemimpin masyarakat Muslim dan saya akan menjadi pemimpin dalam masalah-masalah keagamaan. Dengan terbentuknya koalisi antara Ibn Sa`ud dan `Abd al-Wahhab, Wahhabiyah menjadi ideologi keagamaan bagi suatu unifikasi antarsuku di Arabia Tengah dan apa yang dapat disebut sebagai gerakan Wahhabiyah pun dimulai. Sebagai Imam gerakan Wahhabiyah, Ibn Sa`ud dan `Abd al-Wahhab menjadi pemimpin spiritual dan temporal wilayah itu Ekspansi awal Wahhabi-Saudi yang menentukan berlangsung ke barat, khususnya ke Hijaz, di mana dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, berada. Dalam ekspansi ini mereka berhadapan dengan otoritas keagamaan yang lain, yakni Syarif Mekkah, yang memperoleh legitimasinya dari Khalifah Turki Usmani. Terlepas dari upaya keras orang-orang Hijaz untuk bertahan, koalisi Wahhabi-Saud berhasil memantapkan hegemoni mereka di Ta’if pada 1802, Mekkah pada 1803, dan Madinah setahun kemudian.

Setelah kemenangan itu, para ulama Wahhabi memerintahkan penghancuran kubah yang ada di makam-makam Nabi Muhammad dan para sahabatnya di Madinah. Berdakwah Melalui Surat-menyurat Syeikh menempuh pelbagai macam dan cara, dalam menyampaikan dakwahnya, sesuai dengan keadaan masyarakat yang dihadapinya. Di samping berdakwah melalui lisan, beliau juga tidak mengabaikan dakwah secara pena dan pada saatnya juga jika perlu beliau berdakwah dengan pedang. Maka Syeikh mengirimkan suratnya kepada ulama-ulama Riyadh dan para umaranya, yang pada ketika itu adalah Dahkan bin Dawwas. Surat-surat itu dikirimkannya juga kepada para ulama Khariq dan penguasa-penguasa, begitu juga ulama-ulama negeri Selatan, seperti al-Qasim, Hail, al-Wasyim, Sudair dan lain-lainnya.


Beliau terus mengirimkan surat-surat dakwahnya itu ke seluruh penjuru Arab, baik yang dekat ataupun jauh. Semua surat-surat itu ditujukan kepada para umara dan ulama, dalam hal ini termasuklah ulama negeri al-Ihsa’, daerah Badwi dan Haramain (Mekah - Madinah). Begitu juga kepada ulama-ulama Mesir, Syria, Iraq, Hindia, Yaman dan lain-lain lagi. Di dalam surat-surat itu, beliau menjelaskan tentang bahaya syirik yang mengancam negeri-negeri Islam di seluruh dunia, juga bahaya bid’ah, khurafat dan tahyul. 

Siapakah Salafiyyah ITU? sebagaimana yang telah disebutkan, bahwa Salafiyyah itu adalah suatu pergerakan pembaharuan di bidang agama, khususnya di bidang ketauhidan. Tujuannya ialah untuk memurnikan kembali ketauhidan yang telah tercemar oleh pelbagai macam bid’ah dan khurafat yang membawa kepada kemusyrikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah menempuh pelbagai macam cara. Kadangkala lembut dan kadangkala kasar, sesuai dengan sifat orang yang dihadapinya. Beliau mendapat pertentangan dan perlawanan dari kelompok yang tidak menyenanginya karena sikapnya yang tegas dan tanpa kompromi, sehingga lawan-lawannya membuat tuduhan-tuduhan atau pun pelbagai fitnah terhadap dirinya dan pengikut-pengikutnya.

Musuh-musuhnya pernah menuduh bahwa Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab telah melarang para pengikutnya membaca kitab fiqh, tafsir dan hadith. Malahan ada yang lebih keji, yaitu menuduh Syeikh Muhammad telah membakar beberapa kitab tersebut, serta menafsirkan al-Qur’an menurut kehendak hawa nafsu sendiri. Apa yang dituduh dan difitnah terhadap Syeikh Ibnu `Abdul Wahab itu, telah dijawab dengan tegas oleh seorang pengarang terkenal, yaitu al-Allamah Syeikh Muhammad Basyir as-Sahsawani, dalam bukunya yang berjudul Shiyanah al-Insan di halaman 473 seperti berikut Abdullah bin Muhammad bin `Abdul Wahab, menulis dalam risalahnya sebagai ringkasan dari beberapa hasil karya ayahnya, Syeikh Ibnu `Abdul Wahab, seperti berikut: 

 "Bahwa mazhab kami dalam Ushuluddin (Tauhid) adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan cara (sistem) pemahaman kami adalah mengikuti cara Ulama Salaf. Sedangkan dalam hal masalah furu’ (fiqh) kami cenderung mengikuti mazhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kami tidak pernah mengingkari (melarang) seseorang bermazhab dengan salah satu dari pada mazhab yang empat. Kami tidak mempersetujui seseorang bermazhab kepada mazhab yang luar dari mazhab empat, seperti mazhab Rafidhah, Zaidiyah, Imamiyah dan lain-lain lagi. Kami tidak membenarkan mereka mengikuti mazhab-mazhab yang batil. Malah kami memaksa mereka supaya bertaqlid (ikut) kepada salah satu dari mazhab empat tersebut. 

Kami tidak pernah sama sekali mengaku bahwa kami sudah sampai ke tingkat mujtahid mutlaq, juga tidak seorang pun di antara para pengikut kami yang berani mendakwakan dirinya dengan demikian. Hanya ada beberapa masalah yang kalau kami lihat di sana ada nash yang jelas, baik dari Qur’an mau pun Sunnah, dan setelah kami periksa dengan teliti tidak ada yang menasakhkannya atau yang mentaskhsiskannya atau yang menentangnya, lebih kuat dari padanya, serta dipegangi pula oleh salah seorang Imam empat, 

Maka kami mengambilnya. Pada hakikatnya ada tiga golongan musuh-musuh dakwah beliau: 
1. Golongan ulama khurafat, yang mana mereka melihat yang haq (benar) itu batil dan yang batil itu haq. Mereka menganggap bahwa mendirikan bangunan di atas kuburan lalu dijadikan sebagai masjid untuk bersembahyang dan berdoa di sana dan mempersekutukan Allah dengan penghuni kubur, meminta bantuan dan meminta syafaat padanya, semua itu adalah agama dan ibadah. Jika ada orang-orang yang melarang mereka dari perbuatan jahiliyah yang telah menjadi adat tradisi nenek moyangnya, mereka menganggap bahwa orang itu membenci auliya’ dan orang-orang soleh, yang berarti musuh mereka yang harus segera diperangi. 

2. Golongan ulama taashub, yang mana mereka tidak banyak tahu tentang hakikat Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dan hakikat ajarannya. Mereka hanya taqlid belaka dan percaya saja terhadap berita-berita negatif mengenai Syeikh yang disampaikan oleh kumpulan pertama di atas sehingga mereka terjebak dalam perangkap Ashabiyah (kebanggaan dengan golongannya) yang sempit tanpa mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari belitan ketaashubannya. Lalu menganggap Syeikh dan para pengikutnya seperti yang diberitakan, yaitu; anti Auliya’ dan memusuhi orang-orang shaleh serta mengingkari karamah mereka. Mereka mencaci-maki Syeikh habis-habisan dan beliau dituduh sebagai murtad. 

3. Golongan yang takut kehilangan pangkat dan jabatan, pengaruh dan kedudukan. Maka golongan ini memusuhi beliau supaya dakwah Islamiyah yang dilancarkan oleh Syeikh yang berpandukan kepada aqidah Salafiyah murni gagal karena ditelan oleh suasana hingar-bingarnya penentang beliau. Demikianlah Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab dalam dakwah dan jihadnya telah memanfaatkan lisan, pena serta pedangnya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sendiri, di waktu baginda mengajak kaum Quraisy kepada agama Islam pada waktu dahulu. 

Yang demikian itu telah dilakukan terus menerus oleh Syeikh Muhammad selama lebih kurang 48 tahun tanpa berhenti, yaitu dari tahun 1158 hinggalah akhir hayatnya pada tahun 1206 H. Adalah suatu kebahagiaan yang tidak terucapkan bagi beliau, yang mana beliau dapat menyaksikan sendiri akan kejayaan dakwahnya di tanah Najd dan daerah sekelilingnya, sehingga masyarakat Islam pada ketika itu telah kembali kepada ajaran agama yang sebenar-benarnya, sesuai dengan tuntunan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Dengan demikian, maka maqam-maqam yang didirikan dengan kubah yang lebih mewah dari kubah masjid-masjid, sudah tidak kelihatan lagi di seluruh negeri Najd, dan orang ramai mula berduyun-duyun pergi memenuhi masjid untuk bersembahyang dan mempelajari ilmu agama. Amar ma’ruf ditegakkan, keamanan dan ketenteraman masyarakat menjadi stabil dan merata di kota mau pun di desa. 

Syeikh kemudian mengirim guru-guru agama dan mursyid-mursyid ke seluruh pelusuk desa untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada masyarakat setempat terutama yang berhubungan dengan aqidah dan syari’ah. Setelah beliau meninggal dunia, perjuangan tersebut diteruskan pula oleh anak-anak dan cucu-cucunya, begitu juga oleh murid-murid dan pendukung-pendukung dakwahnya. Yang dipelopori oleh anak-anak Syeikh sendiri, seperti Syeikh Imam `Abdullah bin Muhammad, Syeikh Husin bin Muhammad, Syeikh Ibrahim bin Muhammad, Syeikh Ali bin Muhammad. Dan dari cucu-cucunya antara lain ialah Syeikh `Abdurrahman bin Hasan, Syeikh Ali bin Husin, Syeikh Sulaiman bin `Abdullah bin Muhammad dan lain-lain.  

Dari kalangan murid-murid beliau yang paling menonjol ialah Syeikh Hamad bin Nasir bin Mu’ammar dan ramai lagi jamaah lainnya dari para ulama Dar’iyah. Masjid-masjid telah penuh dengan penuntut-penuntut ilmu yang belajar tentang pelbagai macam ilmu Islam, terutama tafsir, hadith, tarikh Islam, ilmu qawa’id dan lain-lain lagi. Meskipun kecenderungan dan minat masyarakat demikian tinggi untuk menuntut ilmu agama, namun mereka pun tidak ketinggalan dalam hal ilmu-ilmu keduniaan seperti ilmu ekonomi, pertanian, perdagangan, dan lain-lain lagi yang mana semuanya itu diajarkan di masjid dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mari sekrang kita kembali mengenang perjuangan Syeakh di tanah yang disucikan sebelum akhirnya bisa dikuasai. 

Setelah kejayaan Syeikh Muhammad bersama keluarga Amir Ibnu Saud menguasai daerah Najd, maka sasaran dakwahnya kini ditujukan ke negeri Mekah dan negeri Madinah (Haramain) dan daerah Selatan Jazirah Arab. Mula-mula Syeikh menawarkan kepada mereka dakwahnya melalui surat menyurat terhadap para ulamanya, namun mereka tidak mau menerimanya. Sebelas tahun setelah meninggalnya kedua tokoh mujahid ini, yaitu Syeikh dan Amir Ibnu Saud, kemudian tampillah Imam Saud bin `Abdul `Aziz untuk meneruskan perjuangan pendahulunya. Imam Saud adalah cucu kepada Amir Muhammad bin Saud, rekan seperjuangan Syeikh semasa beliau masih hidup. 

Berangkatlah Imam Saud bin `Abdul `Aziz menuju tanah Haram Mekah dan Madinah (Haramain) yang dikenal juga dengan nama tanah Hijaz. Mula-mula beliau bersama pasukannya berjaya menduduki Tha’if. Penaklukan Tha’if tidak begitu banyak mengalami kesulitan karena sebelumnya Imam Saud bin `Abdul `Aziz telah mengirimkan Amir Uthman bin `Abdurrahman al-Mudhayifi dengan membawa pasukannya dalam jumlah yang besar untuk mengepung Tha’if. Pasukan ini terdiri dari orang-orang Najd dan daerah sekitarnya. Oleh karena itu Ibnu `Abdul `Aziz tidak mengalami banyak kerugian dalam penaklukan negeri Tha’if, sehingga dalam waktu singkat negeri Tha’if menyerah dan jatuh ke tangan Salafy (pengikut Syaikh Muhammad). 

Di Tha’if, pasukan muwahidin membongkar beberapa maqam yang di atasnya didirikan masjid, di antara maqam yang dibongkar adalah maqam Ibnu Abbas r.a. Masyarakat setempat menjadikan maqam ini sebagai tempat ibadah, dan meminta syafaat serta berkat dari padanya. Dari Tha’if pasukan Imam Saud bergerak menuju Hijaz dan mengepung kota Mekah. Manakala Gubernur Mekah mengetahui sebab pengepungan tersebut (waktu itu Mekah di bawah pimpinan Syarif Husin), maka hanya ada dua pilihan baginya, menyerah kepada pasukan Imam Saud atau melarikan diri ke negeri lain. Ia memilih pilihan kedua, yaitu melarikan diri ke Jeddah. Kemudian, pasukan Saud segera masuk ke kota Mekah untuk kemudian menguasainya tanpa perlawanan sedikit pun. 

Tepat pada waktu fajar, Muharram 1218 H, kota suci Mekah sudah berada di bawah kekuasaan Muwahidin sepenuhnya. Seperti biasa, pasukan Muwahidin senantiasa mengutamakan sasarannya untuk menghancurkan patung-patung yang dibuat dalam bentuk kubah di perkuburan yang dianggap keramat, yang semuanya itu boleh mengundang kemusyrikan bagi kaum Muslimin. 

Maka semua lambang-lambang kemusyrikan yang didirikan di atas kuburan yang berbentuk kubah-kubah masjid di seluruh Hijaz, semuanya diratakan, termasuk kubah yang didirikan di atas kubur Khadijah r.a, isteri pertama Nabi kita Muhammad SAW Bersamaan dengan itu mereka melantik sejumlah guru, da’i, mursyid serta hakim untuk ditugaskan di daerah Hijaz. Selang dua tahun setelah penaklukan Mekah, pasukan Imam Saud bergerak menuju Madinah. 

Seperti halnya di Mekah, Madinah pun dalam waktu yang singkat saja telah dapat dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Muwahhidin di bawah panglima Putera Saud bin Abdul Aziz, peristiwa ini berlaku pada tahun 1220 H. Dengan demikian, daerah Haramain (Mekah - Madinah) telah jatuh ke tangan Muwahidin. Dan sejak itulah status sosial dan ekonomi masyarakat Hijaz secara berangsur-angsur dapat dipulihkan kembali, sehingga semua lapisan masyarakat merasa aman, tenteram dan tertib, yang selama ini sangat mereka inginkan. Walaupun sebagai sebuah daerah yang ditaklukan, keluarga Saud tidaklah memperlakukan rakyat dengan sesuka hati. Keluarga Saud sangat baik terhadap rakyat terutama pada kalangan fakir miskin yang mana pihak kerajaan memberi perhatian yang berat terhadap nasib mereka. Dan tetaplah kawasan Hijaz berada di bawah kekuasaan Muwahidin (Saudi) yang dipimpin oleh keluarga Saud sehingga pada tahun 1226 H. Oleh karena musuh-musuh gerakan Salafiyyah tidak mempunyai kekuatan yang memadai untuk menentang pergerakan 

Wahabiyah, maka mereka menghasut pemerintah Mesir dan Turki dengan menggunakan nama agama. Akhirnya pasukan Mesir dan Turki menyerbu ke negeri Hijaz untuk membebaskan kedua kota suci Mekah dan Madinah dari cengkaman kaum Muwahiddin, sehingga terjadilah peperangan di antara Mesir bersama sekutunya Turki di satu pihak melawan pasukan Muwahidin dari Najd dan Hijaz di pihak lain. Peperangan ini telah berlangsung selama tujuh tahun, yaitu dari tahun 1226 hingga 1234 H . Muhammad bin `Abdul Wahab telah menghabiskan waktunya selama 48 tahun lebih di Dar’iyah. Keseluruhan hidupnya diisi dengan kegiatan menulis, mengajar, berdakwah dan berjihad serta mengabdi sebagai menteri penerangan Kerajaan Saudi di Tanah Arab. Dan Allah telah memanjangkan umurnya sampai 92 tahun, sehingga beliau dapat menyaksikan sendiri kejayaan dakwah dan kesetiaan pendukung-pendukungnya. 

Semuanya itu adalah berkat pertolongan Allah dan berkat dakwah dan jihadnya yang gigih dan tidak kenal menyerah waktu itu. Kemudian, setelah puas melihat hasil kemenangannya di seluruh negeri Dar’iyah dan sekitarnya, dengan hati yang tenang, perasaan yang lega, Muhammad bin `Abdul Wahab menghadap Tuhannya. Beliau kembali ke Rahmatullah pada tanggal 29 Syawal 1206 H, bersamaan dengan tahun 1793 M, dalam usia 92 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Dar’iyah (Najd). Semoga Allah melapangkan kuburnya, dan menerima segala amal solehnya serta mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. 


Konkulsi :

Kata “wahhabi” sudah tidak terasa asing ditelinga kita, ketika orang yang awam mendengar kata ini dan ketika membayangkan kelompok yang disebut dengan sebutan ini maka yang terdetik di mereka adalah aliran Islam yang sesat yang suka mengkafirkan atau menyesatkan kaum muslimin lainnya dan segudang celaan-celaan lain. 

Semuanya disebabkan oleh adanya sumber-sumber atau rujukan yang tidak jelas kebenarannya dan hanya kedustaan belaka yang tersebar dikalangan orang awam mengenai “Wahhabi”, atau juga karena ketaqlidan (hanya ikut-ikutan) sebagian orang awam dalam menghujat kaum Wahabi. Wahhabi bukanlah sebuah gelar yang dicetuskan oleh pengikut dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sendiri, namun dari musuh-musuh dakwah, baik karena politik saat itu atau para pecinta kesyirikan dari kalangan kaum Sufi dan Rafidhoh dengan tujuan melarikan manusia dari dakwah yang beliau emban dan menggambarkan dan fitnah yang mengatakan bahwa beliau membawa ajaran baru atau madzhab kelima yang menyelisihi empat madzhab. 

Kelompok yang dituduh dengan sebutan “Wahhabi” bukanlah merupakan madzhab yang baru apalagi merupakan agama tersendiri diluar Islam. Raja Abdul Aziz mengatakan, “Mereka menjuluki kami “Wahhabiyun” dan madzhab kami adalah “Wahhabi” sebagai madzhab tertentu, maka ini adalah kesalahan fatal akibat kabar bohong yang didesuskan oleh sebagian kalangan yang memiliki niat jahat. Kami bukanlah pemeluk madzhab baru atau aqidah baru. Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah membawa ajaran baru. Aqidah kami adalah aqidah salaf shalih yang diajarkan dalam al-Quran dan as-Sunnah sebagaimana pemahaman salafus shalih. 

Kami menghormati Imam empat, tidak adanya bagi kami Malik, Syafi’i, Ahmad, dan Abu Hanifah, semuanya sangat terhormat dalam pandangan kami. Pada kenyataannya, dapat kita saksikan sendiri bahwa setiap orang yang memperingatkan ummat atas kesyirikan dan cabang-cabangnya, mengingkari kebid’ahan dan memperingatkan ummat atasnya, maka dia akan disebut “Wahhabi”. Sehingga ini justru menjadi simbol bagi setiap golongan yang mengikuti al-Quran dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman yang benar yaitu pemahaman shalafus shalih. 

Maka tidak heran ada perkataan ulama, “Jika pengikut Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dikatakan Wahhabi, maka akulah Wahhabi.” Salah satu contohnya adalah gelar yang diberikan pula kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat 728 H) sebagai “Wahhabi”, padahal beliau tidak mengenal Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan hidup pada masa sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (wafat 1206 H). Kenapa tidak sekalian saja bahwa syaikh Muhhammad bin Abdul Wahhab itu disebut “Taimiyyi” ? yang bisa saja beliau disebut demikian karena beliau hidup pada masa setelah Syaikh Ibnu Taimiyyah dengan ajaran yang dibawa sama, yakni dakwah tauhid, pemurnian Islam dari Syirik, Bid’ah, dan Khurofat. Jadi kita bersyukur juga adanya ulama seperti Syeakh Muhamad Bin Abdul Wahab yang telah menghancurkan dan menghilangkan kesyirikan yang ada di Arab Saudi. 

Tentu menjauhi provokasi Barat dalam memecah belah umat Islam adalah hal yang wajib kita fahami bersama. Memang fikih dakwah yang dilakukan oleh para pengikut Muhamad Bin Abdul Wahab sekarang terlihat keras dari sisi dakwah, kalau dilihat bagaimana Syeakh Muhamad Bin Abdul Wahab pada zaman itu memang di tuntut untuk adanya ketegasan sebab lingkungan yang terjadi masa itu memerlukan sikap yang tegas dan keras. Jika tanpa ketegasan dan keberanian maka dengan cepat Syeakh Muhamad Bin Abdul Wahab dibinasakan dari tanah Arab. 

 Waalahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha AL-Fikri

Mengenang kekuatan hati Nabi Ibrahim sungguh menakjubkan. Membaca sejarahnya membuat terkesan. Perjalanan kehidupannya dijadikan peradaban. Tentang mimpi Nabi Ibrahim selama tiga kali untuk menyembelih anaknya. 

Seorang Ayah pasti cinta kepada anaknya. Keteguhan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim adalah bukti yang besar bahwa kecintaan kepada Allah jauh lebih tinggi dari hanya sekadar cinta kepada anak.

Contoh : Ketika Nabi Ibrahim hampir saja menyembelih anaknya maka datanglah Malaikat membawa hewan sembelihan sebagai pengganti untuk Nabi Ibrahim dan Nabi Ibrahim lulus dari cobaan yang Allah telah berikan kepadanya.  Itulah jiwa pengorbanan dan kepercayaan yang begitu besar yang diajarkan Allah kepada Nabi Ibrahim.

Kepercayaan yang dalam atas perintah Allah membuat manis diakhir dari perjuangan. Ismail yang kecil pun pada masa itu mengatakan dengan perkataan yang sarat dengan makna, 
 " Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang telah diperintahkan-Nya kepadamu, Insya Allah Engkau akan mendapatiku tergolong ke dalam orang-orang yang sabar.”. 

Anak yang masih kecil sudah mampu memiliki iman yang begitu besar dan kepercayaan atas perintah Allah adalah suatu yang mesti dikerjakan itu sungguh luar biasa. Kalau kita amati zaman sekarang, adakah sosok Ismail yang memiliki keberanian dan kepercayaan yang tinggi kepada Rabb semesta alam? 

Pengorbanan memang berat. 
Kepercayaan pun kadang harus menepikan akal. 

Cinta Nabi Ibrahim dan cinta Nabi Ismail kepada Allah memang bisa dijadikan tauladan buat umat Islam di seluruh dunia. Bahwa dengan percaya kita akan mendapatkan apa yang kita mau. Percaya adalah jalan mengenal Rabb. 

Pengorbanan satu kemestian untuk tergapainya manisnya perjuangan. Nabi Ibrahim dan Isteri serta anaknya membuat peradaban yang besar di tanah Arab. Dari kisah air zam - zam, Ka'bah sampai tentang penyembelihan Ismail. 

Semua menjadi sejarah besar untuk umat ini. Pelajaran yang tinggi buat generasi selanjutnya. Baca sejarah Nabi Ibrahim dalam membuat peradaban Islam yang kekal sampai hari kiamat. Sifat dari pengorbanan, kepercayaan, sifat cinta kepada Allah, perjuangan seorang Ibu kepada anaknya dari kisah air zam - zam dan sebagainya. 

Bersama kita berharap moga sifat dari perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim menjadikan kita lebih terpatri dalam hati tentang makna dari suatu pengorbanan dan kepercayaan.

Waalahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Islam agama sempurna. Islam agama toleransi dan Islam pun agama yang suci. Pluralisme adalah kemajmukan dari sebuah toleransi. Pluralisme kadang menjadi bumerang buat umat Islam. Bahkan ada tokoh yang mengatakan,
" Semua agama benar,".

Lafaz yang keluar dari mulut seorang tokoh itu lebih banyak pengaruh ke masyarakat yang mendengarnya dibandingkan dengan statment dari orang biasa. Agama mengajarkan kebaikan, agama membimbing yang salah tujuan dan agama pun sebagai tiang pegangan.

Tapi, kita mesti bedakan antara jalur sosial dan jalur teologi. Kalau bicara tentang sosial, memang kita mesti saling bantu sebagai makhluk sosial. Mau itu beragama : Kristen, Budha, Hindu. Dalam konteks bermasyarakat memang itulah ajaran agama Islam.

Kita tetap mengatakan, bahwa Islam adalah agama yang diridhai Allah dan selainnya adalah sesat. Itu wajib kita katakan, walau di depan teman atau saudara kita yang tidak se-akidah dengan kita. Jangan mengatasnamakan pluralisme akhinya kita mengatakan semua agama benar. Padahal kita sudah tahu surat Al- Kafirun membantah tentang penghambaan orang Kafir dan Muslim yang tidak sama. Jadi doktrin pluralisme jangan dibawa ke ranah ketuhanan.

Wajib mengatakan, Islamlah agama yang benar. Barat selalu melakukan intervensi dan kontaminasi dari soal ideologi dan akidah. Sampai umat Islam jauh dari Al- Quran dan ajaran Nabi, baru mereka ridha. Negara sejalan dengan Islam dan Islam pun penyanggah negara biar tetap berjalan di atas jalurnya. Yang menyebarkan doktrin pluralisme tiada lain adalah kaum sekularis, menuntut negara untuk mengakui bahwa semua agama adalah benar.

Bagi siapa yang mendukung doktrin pluralisme, maka dia  akan mendapatkan dukungan yang kuat dari berbagai elemen masyarakat yang notabene berbeda agama. Jadi negara beragama itu cita - cita pancasila, tapi bukan berarti semua agama adalah benar. Semua agama mempunyai kasih sayang dan mengajarkan untuk selalu membantu bagi yang memerlukan. Tapi, yang mesti diperhatikan adalah bahwa tidak semua agama bertuhankan satu.


Wallahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Persaingan adalah bagian dari kehidupan. Kita lahir ke dunia pun disebabkan adanya persaingan di antara sperma yang lain. Jadi mengeluh dari beratnya hidup adalah kekalahan. Perjuangan panjang dan lelah adalah suatu proses untuk mengarungi badai masalah yang membuat kita semakin tegar dan semakin kuat. 

Coba kita lihat di sekitar kita, adakah orang yang lebih baik dari kita? Kalau ada, tunjukan bahwa kau lebih hebat darinya. Orang yang lemah adalah orang yang tak bisa menatap masa depan dengan tatapan yang tajam dan meyakinkan.

Di zaman sekarang yang diperlukan itu adalah skill ( keterampilan ) yang kita miliki, bukan hanya sekadar gelar : Lc, MA, PHD, S.Ag, SE dan sebagainya. Buat apa gelar yang banyak itu kalau kontribusi yang diberikan ke masyarakat hanya isapan jempol dan hanya omong kosong.

Teori yang tinggi tanpa aplikasi adalah orang yang kerdil. Jadi kalau ada orang yang belagak seolah pintar dalam semua bidang itu bohong. Sebagaimana yang dikatakan DR. Yusuf Al- Qaradhawi, " Siapa yang berfatwa bukan dibidangnya maka fatwa itu ditolak,".

Zaman modernitas sekarang ini, kita dituntut untuk menguasai satu bidang yang betul - betul kita pakar di dalamnya. Tentu banyak orang mempunyai kualitas yang sama dengan kita malah bahkan di atas kita. Jadi itu seharusnya bukan membuat kita kecil hati, melainkan kita terus mencoba mengasah diri kita untuk terus berkarya dalam bidang kita.

Dunia modernitas adalah dunia kompetitif, bukan zaman orang kaya berkuasa, tetapi orang berilmu sebagai penguasa. Jadi kita selaku manusia yang diberikan otak untuk berfikir, maka kita diwajibkan untuk terus menganalisa.

Dalam ayat Quran Allah berfirman, "ليبلوكم أيكم أحسن عملا " yang artinya : " Untuk menguji siapa yang paling baik di antara kalian amalnya,".
Kenapa ayat di sana menggunakan lafadz" أحسن " Artinya : Paling baik 
bukan  "أكثر" Artinya : Paling banyak ?

Di dalam ayat surat Al-Mulk ini bermakna bahwa Allah itu menyukai kepada manusia yang paling baik amalnya, bukan paling banyak. 

Jadi tendensi dari ayat ini adalah kita mestinya mengutamakan kualitas dari kuantitas. Tentu kualitas itu akan terbentuk kalau adanya saingan yang ketat di antara kita. Contoh : Penjual butik, dia menjual butik dan di sekitarnya tidak ada yang menjual butik, jadi wajar kan kalau butik itu akan terjual laku. Tapi kalau ada saingannya satu dua gerai butik, Jadi dilihat siapa yang paling bagus bahannya dan paling murah itu yang dibeli oleh pembeli. Maka terjadilah persaingan dan menghasilkan kualitas pembuatan.

Apalagi kalau kita lihat sejarah Nabi Muhamad. s.a.w dan para Sahabatnya, ketika dalam majlis selalu ditanya oleh Nabi, " Siapa di antara kalian yang puasa? Siapa di antara kalian yang sedekah? Siapa di antara kalian yang solat tahajud? Dan sebagainya. Pertanyaan itu bermaksud bahwa Rasul mengajarkan kepada kita umatnya  hidup itu penuh dengan kompetisi.

Mari bersama kita bersaing di antara kita untuk menggapai ridha Allah. Jangan kalah sebelum perang. Cari kemampuan apa yang ada dalam diri kita dan setelah itu fokuskan bidang itu sampai kita menjadi pakar. Insya Allah kalau kita seorang pakar, ilmu kita akan bisa dinikmati oleh orang banyak.  

Selamat mengikuti kompetisi Saudaraku...!

Waalahu a'lam.

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Jihad bukan hal yang mudah, jihad bukan mainan kata-kata.
jihad bukan sesuatu yang disenda guraukan.
من مات ولم يغزو ولم ينو الغزو مات على شعبة من النفا ق
artinya : Siapa yang meninggal dan dia belum berjihad di jalan Allah atau tidak punya niat untuk Jihad, maka dia mati dalam keadaan sebagai seorang Munafik.

Di umat Islam masih banyak disinterpretasi dalam memahami hadist Nabi, Ayat Al-Quran khususnya
yang berkenaan dengan hukum jihad dan ketika kapan jihad itu diperlukan.
kita sudah sering mendengar istilah bom bunuh diri, yang sejarah itu bermula dari sesuatu yang sangat mendesak di bumi Palestina untuk melawan agresi militer Israel,
dikarenakan tidak mempunyai senjata untuk melawan Israel atau pun senjata yangterbatas.

di Palestina berperang dengan Yahudi, bukan membunuh sesama Islam sebagaimana terjadi di Bali dan bagian tempat lain di dunia. Banyak yang memahami jihad dengan cara bom bunuh diri adalah sesuatu mulia walaupun yang berakhir dengan banyaknya orang meninggal dari kalangan perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa, bahkan banyak yang meninggal dari umat Islam itu tersendiri.

jadi stigma negatif yang keluar dari non-Islam adalah bahwa Islam itu agama teroris dan agama yang kejam.
padahal Islam sudah mengajarkan bagaimana cara berjihad yang betul sesuai ajaran agama.
memang Nabi pun mengingatkan bahwa ." من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم"
artinya : " Siapa yang tidak perhatian dengan permasalahan- permasalahan saudara se-Islam, maka dia bukan bagian darinya,".

kita tidak boleh diam saja dengan kejadian yang ada di Palestina, Suriah, Myanmar,
mereka disiksa, mereka dibunuh oleh musuh - musuh Allah, yang membuat kita pun marah atas semua itu. Tapi apakah lantas kita melakukan pembomban di tempat - tempat yang tidak ada kena mengena dengan mereka, contohnya pemboman di kereta api atau di diskotik di negara kita?!

sebab kalau kita melakukan pemboman di tempat - tempat yang tidak ada kaitannya dengan pembunuhan yang terjadi di : Palestina, Suriah, Myanmar, Afghanistan lantas kita membom tempat - tempat ibadah agama lain, membom tempat hiburan, yang konon banyak orang Kriten di sana,, bukankah itu dilarang agama?

sejarah masih terkenang di benak kita, ketika orang-orang Romawi Bizantium takluk di bawah kekuasaan Islam dan Umar menerima kunci Yerusalem dari Sophronius, tanpa darah setetes pun yang jatuh di kota suci itu Islam bisa menguasai bumi Yerusalem. dan tidak ada satu pun gereja dihancurkan pada masa itu, maka yang pertama kali di cari oleh Umar adalah tempat solat dan setelah jumpa, maka solatlah umar yang diikuti oleh kaum Muslimin yang lain. Orang - orang Romawi dengan kagumnya berkata, " Kaum yang begitu taat kepada Tuhan memang sudah sepantasnya ditakdirkan untuk berkuasa.

Nabi  pun bersabda, " لا تقتلوا شيخا فانيا ولا طفلا ولا امرأة".
Artinya : " Janganlah kalian membunuh orang tua renta anak kecil dan perempuan, ".
kalau kita perhatian, dari bom bunuh diri yang terjadi di bali dan pemboman di kereta api di Pakistan atau tempat - tempat lain. Anak kecil banyak yang mati, orang tua, perempuan.
jadi dimana dasar Islam yang mereka miliki sampai berani melakukan itu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, setelah itu mereka berkata dengan bangganya, " Ini jihad dan syurga adalah balasannya, ".

sungguh memilukan, orang - orang melaungkan kata jihad, cuma makna Jihad itu sendiri masih jauh dari pengertian yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, s.a.w.
Allah berfirman, " و قاتلوا فى سبيل اللّه الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن اللّه لا يحب المعتدين,"
Artinya : " Berperanglah di jalan Allah  jika orang orang itu memerangi kalian dan jangan melampaui batas, Allah tidak suka orang yang melampaui batas,".

lihat dari firman Allah ini, indahnya Islam, rahmatnya Islam, santunnya Islam.
kita berperang kalau kita memang diserang, diganggu, dizalimi. Kalau tidak, jangan kita memerangi mereka.
kalau pun mereka memerangi kita, kita membalasnya dengan balasan yang sewajarnya.
tidak melampaui batas. Sebab Allah tidak suka orang yang melampaui batas.

Islam itu indah, janganlah kita kotori dengan kebodohan atas pemahaman jihad kita yang kurang,
kita bicara jihad, mesti tahu esensi dari jihad, mesti faham tujuan dari jihad.
yang ditakutkan dari semua ini adalah ini sebuah propoganda yang dilakukan oleh Amerika
Mereka ingin berikan sebuah opini ke negara - negara dunia, bahwa Islam adalah agama yang kejam dan agama yang tidak mempunyai peradaban.

contoh sederhana di Indonesia, ketika bom Bali, Amrozi mengaku sebagai pembom itu dan bertakbir, Allahu Akbar...
jihad jihad...
yang kita perhatikan, orang seperti Amrozi bisa membuat bom sebesar itu, bahkan dikatakan bom yang sebesar itu hanya dimiliki oleh Amerika dan Inggris.
Amrozi pun berteriak, " Allahu akbar..jihad jihad..!
dan  dengan muka yang tanpa bersalah, dia mengatakan. " Saya pembom dan Saya menegakan agama Allah,".

Membunuh perempuan, anak- anak dan membunuh umat Islam itu menegakan agama Allah?!
membunuh Yahudi atau Kristen pun itu dilarang, selama dia tidak mencoba membunuh kita dan menggangu kita. Islam itu agama rahmat, jangan lukai Islam dengan kata - kata jihad kita yang kosong dari penafsiran..

waallahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Islam agama yang universal. Agama yang agung. Agama yang mulia.
pemikir Islam Muhammad Imarah berpendapat dalam bukunya, Islam Dalam Perspektif Barat :
" Bahwa Islam itu masuk dalam 3 unsur sebagai berikut : Agama, Negara, Peradaban.

Jadi Islam itu agama yang mengurus semua akhlak dan ibadah umatnya.
dan Islam pun mengatur juga dalam aspek kenegaraan. Contoh : haramnya korupsi, skandal sex, ketidakadilan.
tentu kalau agama sudah bersanding dengan negara maka akan tercipta satu peradaban yang besar dan hebat.

Islam tidak bisa dipisahkan oleh ketiga unsur itu, sebab saling berkaitan dan saling memerlukan.
agama tanpa negera itu akan pincang.
sebab negara punya peran penting dalam memudahkan hukum itu teraplikasi
dan negara pun tanpa agama akan hancur, sebab ketamakan manusia tidak terkontrol.

Faham sekularisme yang selalu dipropogandakan oleh Barat. Dan itu adalah penyakit kronis
yang mesti kita buang dari sekitar kita.
contoh faham ini : Di masjid untuk solat dan beribadah, di luar masjid kita boleh maksiat.
sebab dosa dan pahala itu ada di dalam masjid saja, di luar masjid agama tidak bisa menyekat atau melarang itu semua.
faham ini yang kadang masih banyak orang yang menggunakannya.

Secara etimologi sekularisme berasal dari kata
saeculum (bahasa latin), mempunyai arti dengan dua konotasi waktu dan lokasi: waktu
menunjukan kepada pengertian ‘sekarang’ atau ‘kini’, dan waktu
menunjuk kepada pengertian ‘dunia’ atau ‘duniawi’.
Sekularisme juga memiliki arti
fashluddin anil haya, yaitu
memisahkan peran agama dari kehidupan yang berarti agama hanya
mengurusi hubungan antara individu dan penciptanya saja.

sekularisme secara bahasa bisa diartikan sebagai faham yang hanya
melihat kepada kehidupan saat ini saja dan di dunia ini. Tanpa ada
perhatian sama sekali kepada hal-hal yang bersifat spiritual seperti
adanya kehidupan setelah kematian yang notabene adalah inti dari ajaran agama.
sekularisme secara terminologi sering didefinisikan sebagai sebuah
konsep yang memisahkan antara negara (politik) dan agama ( state
and religion)

Yaitu, bahwa negara merupakan lembaga yang mengurusi
tatanan hidup yang bersifat duniawi dan tidak ada hubungannya dengan
yang berbau akhirat, sedangkan agama adalah lembaga yang hanya
mengatur hubungan manusia dengan hal-hal yang bersifat metafisis dan
bersifat spiritual, seperti hubungan manusia dengan tuhan. Maka,
menurut para sekular, negara dan agama yang dianggap masing-masing
mempunyai kutub yang berbeda tidak bisa disatukan. Masing-masing
haruslah berada pada jalurnya sendiri-sendiri.

Sejarah singkat Sekularisme :
Peradaban barat pernah mengalami masa pahit, yang mereka sebut
“the dark ages” atau zaman kegelapan. Zaman itu dimulai ketika Imperium Romawi barat runtuh pada tahun 476 M dan digantikan mulai
munculnya gereja segamai institusi yang menguasai eropa hingga abad 14. Pada selang waktu itu terjadi perubahan besar dalam peradaban
Barat, dimana gereja mendominasi segala aspek kehidupan, terutama
dalam politik dengan pemerintahan teokrasinya.
Sejarah sekularisasi dimulai dari kekecewaan barat terhadap dominasi gereja dalam segi kehidupan masyarakat yang bermula sekitar
250 tahun yang lalu. Proses sekularisasi bermula dari pergolakan
pemikiran dan pertarungan gagasan, seperti dalam kasus Copernicus, Galileo, Darwin dan para saintis lain yang menentang gereja. Begitu juga
dibidang teologi muncul tokoh-tokoh seperti Eichhorn dan Strauss yang menerapkan beberapa metode historis kritis dalam kajian bibel. Jawaban
lainnya berusaha memperjelas sekularisasi dalam rangka modernisasi, seperti perubahan masyarakat dari agraris ke industri dari kehidupan
pedesaan ke perkotaan, dari kebiadaban menjadi peradaban dan seterusnya.


Jadi kalau peradaban Islam mau terus maju, faham sekularisme yang ditularkan oleh Barat jangan kita gunakan di kalangan umat Islam.
sebab racun itu akan terus menjalar dan mematikan. Jadi umat Islam dituntut untuk terus berhati - hati dan waspada dari virus yang akan merusak tatanan hukum agama.

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Lidah punya makna, lidah lebih tajam dari pedang.
orang banyak masuk neraka salah satunya sebab lidah. lidah bisa memasukan orang ke dalam neraka dan dengan lidah pun syurga bisa diraih. Orang banyak terpukau dan bersimpati bagi siapa yang punya jiwa sastera yang tinggi.
emas adalah tiap kata - kata yang keluar dari mulutnya.
dan pendengar pun tak pernah bosan ketika mendengarkan bait-bait syairnya.

Sastera zaman Nabi dan sebelum Nabi sangat tinggi pengaruhnya.
sampai orang yang tengah berjalan pun akan terdiam ketika mendengar ada seorang pujangga sedang meluahkan ditiap syair- syairnya.
bahkan orang kaya pun akan memberikan duit yang begitu banyak bagi orang yang pandai dalam memainkan kata -kata.

syair yang keluar dari mulut pujangga itu ada yang sungguh dari luahan hati dan ada pula pujangga yang memang dibayar untuk meninggikan orang yang membayarnya.
Sasterawan sangat diagung -agungkan akan kebesaran dari tiap kata.
Sasterawan bisa merubah langit yang mendung menjadi kembali berawan.
Sasterawan bisa merubah hutan bersemak belukar menjadi tanah yang indah dan menawan.

Nabi ketika masih kecil suka datang ke pasar Ukazd tempat para pujangga memainkan kata, tujuannya untuk melembutkan hati Nabi dan melatih Nabi dalam indahnya kata.
membuat orang tersungkur sujud ketika mendengar kata - kata indah yang memberikan ketenangan hati
dan keluasan jiwa.

Pujangga bagaikan artis yang sangat dipuja  penggemarnya.
Pujangga bagaikan dewa yang disembah oleh para hambanya.
Pujangga bagaikan wanita cantik yang selalu dinikmati keindahan tubuhnya.

Maka Al-Quran pun turun dengan mu'jizat.
Sebab itu Al-Quran melawannya dengan kata-kata. Melawan sombongnya kata dengan kata.
mereka bangga dengan syair yang mereka buat, maka Allah pun yang maha perkasa.
bisa membuat lebih dari apa yang mereka sombongkan itu.

ketika mendengar ayat Al-Quran
maka Zuhair bin Abi Sulma seorang sasterawan terkenal di masa itu mengatakan, " Ini bukan perkataan jin dan manusia dan ini bukan perkataan Muhamad, sebab kata - kata ini sungguh luar biasa,".
bagaimana Al-Quran bisa membuat para sasterawan itu tertunduk malu ketika ditantang untuk membuat sepuluh surat seperti dalam Al-Quran dan mereka tak mampu, maka diringakan untuk buat satu surat saja dan itu pun mereka masih tak mampu.

Padahal mereka begitu bangga dengan syair - syair. 
ternyata tiap kata yang keluar dari pujangga tak bisa menandingi hebatnya Al-Quran.
Allahlah yang maha kuasa.
Dialah yang bisa menaklukan hati para durhaka.
Dialah penjaga langit dan bumi.
Dialah penguasa kata - kata
sebab dialah pencipta kata- kata.

Bergumullah dengan sastera maka kita akan merasakan lembutnya hati.
bermainlah dengan kata maka kita akan selalu menikmati tiap huruf - huruf yang tersusun rapi.
dengan sastera kau bisa raih dunia.
sebab dunia ini tanpa huruf tak akan pernah jadi satu kesatuan makna.

Waalahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Bermain kata adalah tugas kaum Liberalis, bermain ayat Al- Quran masih tugas kaum Liberalis, bermain dengan hadist pun masih hobby kaum Liberalis.

yang berkenaan dengan distorsi interpretasi dari semua hukum Islam adalah mainan kaum Liberalis. Di Indonesia tokoh kaum Liberalis bernama Ulil Abshar Abdalah. Di Mesir terkenal dengan nama Nasr Hamid Abu Zaid. Mereka suka bermain dengan hukum Islam.

mainan dalam interpretasi Al-Quran sesuka dia. Kata menjadi senjata membohongi orang. Kalimat menjadi pisau yang tajam buat menipu orang.
sungguh luar biasa peran dari kaum Liberal di dunia, termasuk yang ada di Indonesia.

Dari penafsiran dengan gaya Hermeneutika, metode apa ini?!
Kajian hermeneutika ini menarik. Bagi sebagian besar umat Muslim di Indonesia, termasuk kalangan cendekiawannya,. Hermeneutika adalah metode tafsir yang berasal dari Yunani dan berkembang pesat sebagai metode intepretasi Bibel. Jadi ini adalah sebuah metode interpretasi yang hidup dalam tradisi Nasrani yang kemudian menumbuhkan tradisi Barat sekuler-liberal setelah abad 16 dan 17. Itulah pertama perlu dicermati secara objektif sebelum bersikap menerima atau menolak harmeneutika.

dengan kata kata yang banyak memukau pendengar, akhirnya banyak yang terpedaya dengan kaum Liberalis dan mengikuti jenis metode hermeneutika ini.
semua dengan kata kata. Makna berubah kalau sudah menggunakan metode hermeneutika dalam penafsiran Al- Quran.
tidak sesuai untuk dinamakan tafsir sebab Jauh dari pondasi kebenaran dalam Islam.

bermula sebagai tradisi Yahudi dalam penafsirannya dan juga metode ini berkembang di Eropa, setelah itu ingin dibawa pula virus itu ke Islam.
sangat jauh dari kebenaran dan nampak sekali kebencian Barat atas kemurnian agama Islam sampai sekarang.

Penulis melihat berita, ada di antara umat Islam di Indonesia masih berasumsi bahwa perempuan berhak untuk menceraikan lelaki : sumber klik
bukankah ini dinamakan doktrin Liberalisme?!
jadi hak perempuan dan lelaki sama, sampai masalah perceraian.
dinamakan dengan sebutan : Equality Gender
bahwa hak laki dan perempuan sama.
bahkan dalam masalah perceraian.

Perempuan punya hak untuk menceraikan lelaki.
doktrin ini sudah sampai ke masyarakat yang kurang mengerti akan pondasi pondasi penting dalam Islam.
Sampai harta warisan mesti sama antara lelaki dan perempuan dan sebagainya.
padahal lelaki menjadi tanggung jawab kepada adik perempuan dan kakak perempuan sampai dia menikah.
duit warisan yang diberikan lebih kepada lelaki itu sebab semua duit yang ada itu mesti dikeluarkan untuk keperluan adik perempuan dan kakak perempuan dia
dan warisan yang didapat oleh perempuan itu disimpan tidak dikeluarkan.

kalau kita melihat dengan sebelah mata, maka kita akan terpengaruh dengan ideologi Barat.
bahwa Islam itu tidak adil, bukankah itu dinamakan 
doktrin yang gila?
kalau orang yang kurang faham agama, mereka akan meng-iya-kan apa-apa yang disampaikan oleh kata- kata busuk dari kaum Liberalis.
sebab mereka bermodal kata - kata dan sedikit hujah lemah atau hadist palsu.

Moga kita sebagai umat Islam tidak ikut terjerumus oleh pemikiran Yahudi yang sudah masuk ke tulang umat Islam di dunia, khususnya Indonesia.

“Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri yang Kami ceritakan kepadamu. Beberapa di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada yang telah musnah. Dan Kami tidaklah menganiaya mereka; tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (TQS. Hud: 100-101)

“Adapun kaum ‘Aad mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” dan Apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Tapi mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) kami. (TQS. Fussilat: 15)


Sejak kehancuran Khilafah Islam pada abad yang lalu, peradaban Barat mulai mendominasi dunia secara politis, militer dan ekonomi. Peradaban Barat menjadi amat bangga akan kemajuan yang dicapainya dan saat ini menyebarkan ideologinya dengan gigih di dunia Islam. Kepada kita dikatakan bahwa Peradaban Barat adalah universal dan merupakan jalan satu-satunya bagi kemajuan dan pencerahan.

Bush berkata, “Peradaban Barat bukanlan nilai-nilai Amerika atau –seperti anda tahu– bukan pula nilai-nilai Eropa. Peradaban Barat merupakan nilai-nilai universal. Karena universal, nilai-nilai itu, seharusnya diterapkan di setiap tempat.” Blair berkata, ”Peradaban kita bukanlah nilai-nilai Barat, ia adalah nilai-nilai universal dari semangat kemanusiaan. Dan di manapun…di manapun, kapan saja, rakyat biasa diberikan kesempatan untuk memilih. Pilihanya adalah sama: kebebasan, bukan tirani; demokrasi, bukan diktator; tertib hukum, bukan hukum dari polisi rahasia.”

Sering kali dikatakan pada kita bahwa peradaban Islam adalah hanya ada dalam lembaran sejarah dan mereka yang menginginkan Islam, syariah, dan Khilafah adalah orang yang berbicara mengenai keterbelakangan dan kegelapan. Namun, apa yang tidak ditunjukkan oleh Barat adalah jurang eksploitasi yang dalam, kekacauan, dan keputusasaan yang telah diciptakan kapitalisme di seluruh dunia.

Propaganda Barat tidak mampu menyembunyikan kemunduran dan kerusakan peradaban ini – suatu masalah yang memang telah jelas bagi kita semua. Ketika mereka menyebarkan nilai-nilai dan ideologi mereka kepada dunia dengan cara yang sangat arogan dan memfitnah peradaban Islam, maka mereka telah mencoba untuk menyembunyikan keputusasaan yang mereka ciptakan pada masyarakat mereka sendiri dan di seluruh dunia.

Percampuran antara materialisme dan kebebasan individu tanpa batas, telah menyebabkan kekerasan yang mewabah, pengunaan obat bius, dan alkohol; mengabaikan orang lanjut usia, kemiskinan, kerusakan pada keluarga, kekosongan spiritual, rasisme, dll, dll.

Penyalahgunaan obat meningkat dengan pesat; juga makin tingginya depresi dan mewabahnya pesta minuman keras. Di Inggris, angka resmi menunjukkan bahwa peminum minuman keras yang “berbahaya dan membahayakan” mencapai angka 7,1 juta orang. Pada dekade lalu, orang yang masuk rumah sakit karena sebab yang berkaitan dengan alkohol telah berjumlah dua kali lipat.

Lebih dari seperlima wanita di Inggris menjadi korban kekerasan seksual ketika meraka anak-anak. Di Negara itu , tiap menit polisi menerima telepon dari masyarakat yang meminta bantuan akibat kekerasan rumah tangga. Satu dari empat wanita di Inggris telah mengalami pemerkosaan atau dicoba untuk diperkosa. Tiap minggu di Inggris, satu hingga dua anak mati karena kekejaman. Satu dari tiga anak-anak hidup dalam kemiskinan. Lebih dari 25 persen dari seluruh pemerkosaan yang dicatat polisi dilakukan terhadap anak-anak di bawah usia 16 tahun. Setengah juta orang usia lanjut diperlakukan dengan kasar, terutama karena tidak mempedulikan mereka. Lingkaran hutang menjerat keseharian masyarakat Inggris .Hutang konsumen di Inggris berada pada angka £ 1.3 triliun, suatu angka yang mengejutkan.

Jurang antara orang kaya dan orang miskin terus melebar. 13,000 keluarga terkaya di Amerika saat ini memiliki pendapatan yang sama dengan 20 juta orang penduduk paling miskin. 13,000 keluarga itu memiliki pendapatan 300 kali lipat dari pendapatan keluarga rata-rata.


Situasi Global

Secara global, peradaban Barat telah menciptkan tata dunia yang tidak adil yang dicirikan oleh imperialisme lewat mekanisme hutang, perdagangan yang tidak adil, dukungan bagi para diktator dan tiran, dan pendudukan yang illegal. Sementara pada saat yang sama mengurangi kebebasan sipil di negara mereka sendiri dengan cara menteror rakyatnya sendiri.

Mereka berbicara soal penentuan nasib sendiri dan demokrasi, tapi mendukung diktator di seluruh dunia Islam seperti Mubarak dan Karimov dan mencegah keinginan masyarakat kepada Islam, syariah dan Khilafah.

Mereka berbicara soal supremasi hukum dan perdamaian di Timur Tengah, namun kenyataanya mereka menjajah dan menjarah; menduduki negeri orang lain. Seperti yang terjadi di Irak di mana mereka membunuh lebih dari 650,000 ribu jiwa.

Mereka berbicara soal keringanan hutang, tapi telah memperbudak seluruh negera di bawah belenggu IMF dan Bank Dunia. Mereka berbicara soal pemberantasan korupsi tapi menyogok ratusan juta dollar kepada para penguasa di negeri-negeri muslim untuk mendapatkan kontrak dagang.

Mereka berbicara soal HAM, tapi Guantanamo Bay, Abu Ghraib, Patriot Act, Undang-undang anti-terroris yang tersamar, menghentikan dan menggeledah, penahanan, penyiksaan, penawanan tanpa peradilan, penculikan dan pengiriman tersangka untuk ditahan dinegara-negara yang merupakan rezim brutal , interogasi yang brutal dan perang-perang yang illegal dan imperialistik adalah bukti-bukti atas sebuah peradaban yang telah memasuki kemunduran yang permanen.

Nilai-nilai, prinsip, dan tradisi dari peradaban Barat telah dijual murah senilai 30 keping perak – Negara-negara Barat saat ini telah kehilangan otoritas moralnya.


Propaganda Yang Gagal

Peradaban Islam (saat ini) tidak memiliki negara yang mengembannya. Ia juga tidak memiliki tentara dan senjata untuk mempertahankannya. Sementara, peradaban Barat dilengkapi dengan senjata, tentara, teknologi, dan dominasi politik, militer dan ekonomi. Namun, walaupun semua itu dilakukan, propaganda pemerintahan Barat mulai memudar.

Kaum Muslim yang tinggal di Barat, yang tiap hari dicekoki kapitalisme, saat ini semakin bersatu dengan kaum Muslim di Dunia Islam untuk menentang kebijakan (kapitalistik), melawan pendudukan, melawan upaya memecahbelah negeri-negeri kita, melawan campur tangan asing, demi tegaknya syariah, demi tegaknya Khilafah, dan seterusnya.

Bahkan propaganda Barat yang anti Islam tidak mampu membendung -bahkan kaum non-Muslim- yang mulai menghargai Islam sebagai sebuah agama dan sebuah sistem. Beberapa di antaranya masuk Islam dan berjuang untuk Islam, sementara yang lainnya tidak lagi mempercayai propaganda pemerintah mereka. Seorang wanita yang masuk Islam setelah Peristiwa 11 September, dia mengatakan bahwa sebelum ‘perang melawan teror’ dia tidak mengetahui siapakah Muhammad SAW, tapi saat ini dia ridho mempertaruhkan nyawanya untuk Rosulullah saw.

“Dan ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu (dari rumahmu). Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.” (TQS. Al-Anfal: 30)

Wahai Muslimin dan Muslimat!

Walaupun negara kita tidak ada pada saat ini, akhir segalanya akan berpihak pada peradaban Islam, karena peradaban Barat didasarkan pada kebatilan dan peradaban Islam didasarkan pada kebenaran. Allah SWT berfirman:


”Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.”

(TQS. Al-Anbiya:18)

Wahai Muslimin dan Muslimat!

Kekalahan Peradaban Barat terbukti dari tindakan-tindakannya yang menunjukkan keputusasaan. Pendudukan, penyiksaan, penahanan, propaganda, bukanlah tindakan-tindakan dari peradaban yang kuat, melainkan tindakan dari peradaban yang sakit.

Propaganda melawan Islam, pengemban syariah, Khilafah, dan dakwah adalah karena pemerintah-pemerintah Barat mengetahui bahwa mereka sedang menghadapi kebangkitan kembali Islam di seluruh dunia. Tindakan mereka seperti usaha membuat parit yang terakhir dari peradaban kapitalis yang sedang tenggelam.

Maka, kokohkanlah keyakinan anda, berikan loyalitas anda kepada Dien (Al-Islam) dan Umat. Jangan biarkan penyesatan yang membuatmu lemah, karena tingkatan ini hampir usai. Tidak lama lagi, situasi akan berubah cepat. Tanda keberhasilan perjuangan menuju Khilafah semakin nampak jelas. Tahapan menuju kemenangan sudah semakin mendekat dari hari ke hari.

Keimanan kita pada Allah SWT adalah sangat besar dan harapan kita akan kemenangan yang dekat ini tidak tersentuh bahkan dengan sebuah ucapan. Dan Allah SWT maha berkuasa atas segala urusan-Nya, tapi kebanyakan manusia tidak tahu, dan Dia, segala puji bagiNya, berfirman:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.”. (TQS. An-Nur [4]: 55)

sumber :klik

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.