Latest Post

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Zaman berubah sesuai dengan perubahan di tubuh masyarakat. Kalau suatu masyrakat berjalan dengan satu pondasi kuat, maka perubahan terhadap kebaikan semakin cepat.
Tapi, Jika masyarakat kurang ilmu agama, akhlak pun dinomorduakan. Coba kita sejenak menoleh dengan zaman - zaman sebelum masuk zaman modernitas, terlihat kolot tapi ada akhlak.
Zaman seteleh modernitas malah akhlak kadang dianak tirikan.

Dulu filem - filem anak kecil dan musik - musik anak kecil pun sangat berbeda dengan orang orang yang besar. Sekarang semua berubah, anak kecil dari filem percintaan sampai musik pun, semua tentang cinta.
Semua berubah, dulu masih malu kalau berpacaran di depan umum, sekarang malah bangga kalau berpacaran di depan umum. 

Ketika dunia rasionalitas tertutup dengan zaman, maka semua pun akan terlindas olehnya. Sebab ada istilah, "  Anak besar sesuai dengan zamannya,".
Di mana anak itu berkembang dan terus mengeluarkan potensi dalam dirinya maka di sanalah letak kemajuan anak tersebut, bahkan teman - teman adalah pengaruh yang sangat tinggi dalam perkembangan anak, sebab mereka selalu bercengkrama dengan kawan - kawan di sekolah. Rumah sebagai tempat tidur saja, malah banyak orang tua juga tidak mengenal perkembangan anaknya, sebab kesibukan kerja membuat anak terlupakan.

Yang diberikan hanya duit dan duit, tapi perhatian selalu dilupakan, kasih sayang tidak didapatkan, cinta tidak diberikan.
Sungguh kasian..

Zaman telah banyak menenggelamkan banyak orang, terkhusus generasi yang lahir di zaman fitnah dunia.
Persiapan untuk menghadapi zaman yang berat perlu ilmu yang tinggi dan kesabaran yang luar biasa, sebab jangan sampai zaman memakan kita.

Dunia ini sudah gersang, dunia ini sudah berjuta tahun, dunia ini sudah bosan dengan dosa - dosa manusia.
Bangunan tinggi pencakar langit pun semakin bersaing antar negara, masjid besar dan mewah pun makin dibangun dan jamaah yang solat pun makin sedikit,
Bukankah kita tahu tanda - tanda kiamat salah satunya adalah orang makin banyak membangun bangunan pencakar langit?

Bersama kita memohon kepada Allah dari fitnah zaman yang terus menggerus nilai - nilai Ilahi.
Zaman adalah roda kehidupan. Kita mesti yang mengendalikan zaman, bukan zaman yang merubah sikap kita.

Waallahu a'lam

Penulis : Muhamad Yudha Al-Fikri

Politik semakin memanas dengan semakin dekatnya tahun 2014, bola liar pun akan terus mengejar bagi siapa yang tidak kuat menghadapinya.
Para calon semua bersiap mulai dari yang memberanikan diri sampai memaksakan diri untuk terus maju dalam pemilihan Presiden bahkan Raja dangdut pun ikut mewarnai 2014 nanti.
Memang Presiden adalah puncak tertinggi dari sebuah karir politik, tapi tidak menjamin untuk bisa berhasil.

Banyak muka lama yang menghiasi pemilihan Presiden 2014 dari : Prabowo, Megawati sampai Wiranto.
Walau muka tua bukan berarti sedikit pendukung, bukankah kita tahu istilah, " orang tua itu banyak pengalaman, "
Jadi orang - orang lama pun ingin tambah eksis juga donk..

Farhat Abbas seorang pengaca muda,  satu dua hari ini berkicau di media tentang ucapan rasis kepada Ahok dan seluruh orang Cina di Indonesia, yang berkenaan dengan plat mobil Wakil Gubernur
yang selalu diwacanakan oleh Ahok. Kata - kata rasisnya berbunyi," apa pun platnya tetap aja cina ".
yang disayangkan sifat begini kenapa masih ada di dunia yang serba modern ini ya?

Opini berkembang bahwa Farhat Abbas adalah calon Presiden termuda, tapi kok tingkahnya masih jauh dari kematangan jiwa ya?
Bagaimana ingin membangun Indonesia kalau masih ada sifat rasis dan inklusif dalam diri yang notabene negara Indonesia adalah negara berbagai suku, ras dan agama?

Mungkin kita lupakan saja tentang politisi mentah itu, kita beralih membahas tentang PERDA di Aceh yang melarang perempuan ngangkang ketika bonceng naik motor. Banyak yang membicarakan masalah kebijakan itu memarjinalkan perempuan dan bla bla. Padahal kita terlalu intervensi terlalu jauh, Aceh masyarakat yang terkenal kental dengan agama, syariat Islam pun teraplikasi di bumi itu.

Ulama dan pemerintah lebih tahu soal mereka, tapi yang heboh malah pulau Jawa yang notabene banyak agama. Biarlah Aceh dengan kehidupannya, jangan dipolitisi oleh politikus yang rakus media.


Indonesia terlalu banyak orang hebat ;
hebat cari popularitas, hebat demonstrasi yang tidak jelas, hebat disuap, hebat korupsi, hebat karena rakyatnya mudah terprovokasi media.
2014 akan menyapa kita dengan hadirnya orang - orang hebat, bersiaplah di 2013 ini, sebab orang - orang hebat itu akan numpang eksis di layar kaca anda ( TV )

Wallahu a'lam



Penulis : Muhamad Yudha Al Fikri

Sistem pendidikan pun mempunyai klasifikasi, dari golongan untuk masyarakat kelas mewah sampai untuk orang miskin pun fasilitas juga berbeda.
Tapi baru - baru ini putusan MK untuk menghapus RSBI mempunyai banyak respon yang berbeda dari masyarakat ada yang  pro dan kontra.

Yang pro berpendapat bahwa memang mesti ada persamaan dalam hal pendidikan bahwa pendidikan bukan hanya untuk orang berduit saja melainkan orang miskin pun mesti sama dalam hal fasilitas dan pengajaran. Begitu pun bagi yang kontra mereka berpendapat, jangan dihapus RSBI sebab pendidikan nasional tidak bisa menjamin prestasi dan pemerintah kurang memperhatikan pendidikan bangsa. Padahal kita ketahui bersama bahwa sekolah - sekolah reguler yang mempunyai prestasi yang bertaraf internasional bukan RSBI.

Bahasa inggris sebagai penghantar di sekolah RSBI, tapi yang mesti kita fahami bahwa itu bukan jaminan orang itu pintar. Sekolah di Indonesia pun banyak yang sekolahnya penghantar komunikasi berbahasa inggris, jerman sampai bahasa mandarin. Kalau kita amati bahwa sekolah RSBI di Indonesia tidak lain hanya harga mahal dan dikatakan bergengsi sebab mahalnya saja bukan dari prestasi.

Indonesia itu sudah kalah bersaing dengan sekolah di negara - negara maju, pemerintah masih kurang mendukung dalam hal kemajuan putera puteri bangsa.
Mestinya sistem pendidikan Indonesia itu lebih kepada kualitas sekolah, bukan hanya ingin mencari duit akhirnya membangun sekolah bahkan dijadikan bisnis.
Di negara Indonesia yang beragam jenis sekolah tapi jarang yang mempunyai spesialisasi sebagaimana terjadi di negara maju seperti Amerika, sekolah di sana sudah difokuskan kepada kapabilitas tiap murid dan diarahkan dari kecil. 

Jadi memang betul - betul faham dan pakar dalam bidangnya ketika murid - murid itu ketika lulus dari dunia sekolah. Pendidikan itu menunjukan dan mempunyai pengaruh besar terhadap jatidiri murid atau prestasi murid di masa depan dalam menghadapi zaman yang semakin susah dan menantang.

Indonesia negara yang berkembang pesat, semua sistem yang ada pun di revitalisasi dan berusaha menjadi lebih baik lagi dari sistem birokrasi sampai pendidikan.

Indonesia adalah negara kedua terbawah se-Asia yang masyarakatnya kurang bisa berbicara bahasa Inggris setelah Vietnam, banyak asumi yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah negara yang terlalu cinta terhadap bahasanya.

Contohnya ketika menteri perdagangan Indonesia bersatu jilid II memberikan statment bahwa yang masuk dalam kementerian perdagangan harus mempunyai bahasa Inggris yang bagus, maka banyak kritikan terhadap menteri perdagangan, mestinya para investor yang datang ke Indonesia kalau mau menanamkan modal di Indonesia bawa saja penterjemah, jangan kita yang mesti memahami bahasa Inggris.

kalau kita lihat masyarakat jerman, Jika kita bertanya bahasa Inggris ke orang Jerman, maka mereka menjawabnya dengan bahasa Jerman, bahkan banyak yang tidak bisa bahasa Inggris, begitu pun yang terjadi dimasyarakat Rusia.

Menunjukan mereka itu malu kalau menggunakan bahasa Inggris, bukannya bangga. Jadi bahasa adalah identitas negara. Ruhnya negara adalah bahasa. 

Masyarakat yang bangga terhadap bahasa nenek moyangnya maka tidak akan pernah tergerus orang zaman yang terus mengejar. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahasa Inggris mempunyai peran penting juga dalam hubungan luar negeri, tidak bisa kita menutup mata bahwa Eropa adalah pusat peradaban dan mereka berbahasa Inggris.

Jadi kita juga mesti bisa berbahasa Inggris dan kebanyakan masyarakat Indonesia berpendapat bahwa di RSBI itu anaknya akan pandai bahasa Inggris, padahal tidak bisa menjamin sekolah mahal maka anaknya akan lebih pintar dibandingkan dengan sekolah reguler yang lain.

Jadi dimana pun kita sekolah, mahal atau pun murah harga yang mesti kita bayar, tapi kualitas diri kembali ke orangnya. Kalau muridnya malas, mau sistem yang luar biasa sekali pun tetap saja tidak bisa.
Bukalah mindset, bahwa kemajuan diri itu kembali ke individu yang menjalaninya.


Waalahu a'lam

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.